#Artikel #NgajiBersama #OpenMic

Berkenalan dengan Ilmu Qiraat

Pendahuluan
Tulisan singkat ini bertujuan mengenal lebih dekat tentang ilmu qiraat dimana ilmu ini merupakan cabang dari ilmu dalam Ulum al-Qur’an. manfaat yang akan diperoleh agar setiap pengkaji Islamic studies khususnya dan siapa saja yang ingin mendalami ilmu ini dapat mengerti dan memahaminya. Sebenarnya, munculnya ragam qiraat telah ada sejak zaman Nabi. Namun setiap permasalahan dapat diselesaikan dengan merujuk langsung kepada Rasulullah SAW. Setelah Rasulullah wafat dan kekuasaan Islam meluas, serta jarak masa wahyu dan nubuwwah semakin jauh para sahabatpun banyak yang meninggalkan Madinah menuju daerah-daerah yang telah dikuasai Islam. Para sahabat mengajarkan al- Qur’an sesuai dengan apa yang mereka pelajari dari Nabi SAW. Sementara itu, para ahli qiraat dari kalangan sahabat dalam mempelajari qiraat al-Quran dari Nabi SAW, ada yang hanya mempelajari dan mendalami satu versi qiraat, ada yang mempelajari dan memahami dua versi qiraat, dan ada pula yang lebih dari itu. Tapi perlu diketahui bahwa perbedaan ragam qiraat ini semua berasal dari Allah, bukan dari Nabi atau dari imam-imam qiraat yang lain. Senada dengan hadits Nabi SAW :
إِنَّ هَذَا القُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ، فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ
(رواه البخاري)

“Sesungguhnya Al-Quran ini diturunkan ataw tujuh huruf, maka bacalah oleh kalian yang dirasakan mudah oleh kalian” (HR. Imam Bukhori)

Adapun khususan ilmu ini kajian ini masih jarang dilirik oleh Islamic studies.

Selayang Pandang Ilmu Qiraat.

Ilmu Qiraat merupakan salah satu cabang ilmu dalam Ulum al-Quran, namun sedikit orang yang tertarik kepadanya, kecuali orang-orang tertentu saja, biasanya kalangan akademik atau pondok pesantren yang memang memfokuskan pada pendalaman qiraat saja. Banyak aspek yang menyebabkan hal tersebut, pertama ilmu ini tidak berhubungan langsung dengan kehidupan dan muamalah manusia sehari-hari ; tidak seperti ilmu fiqih, hadis, dan tafsir misalnya, yang dapat dikatakan berhubungan langsung dengan kehidupan manusia.
Kedua, ilmu ini juga cukup rumit untuk dipelajari. Banyak hal yang harus diketahui oleh peminat ilmu qiraat ini, yang terpenting adalah pengenalan al-Quran secara mendalam dalam banyak seginya, bahkan hafal sebagian besar dari ayat-ayat al-Quran merupakan salah satu kunci memasuki gerbang ilmu ini. Pengetahuan bahasa Arab yang mendalam dan luas dalam berbagai seginya, juga merupakan alat pokok dalam mendalami ilmu ini, pengenalan berbagai macam qiraat dan para perawinya adalah hal yang mutlak bagi pengkaji ilmu ini. Hal-hal inilah mungkin yang menjadikan ilmu ini tidak begitu populer.
Meskipun demikian keadaannya, ilmu qiraat ini sangat berjasa dalam menggali, menjaga dan mengajarkan berbagai cara membaca al-Quran yang benar sesuai dengan yang telah diajarkan Rasulullah SAW. Para ahli qiraat mencurahkan segala kemampuannya demi mengembangkan ilmu ini. Ketelitian dan kehati-hatian mereka telah menjadikan al-Quran terjaga dari adanya penyelewengan dan masuknya unsur-unsur asing yang dapat merusak kemurnian al-Quran. Tulisan singkat ini dapat dikatakan sebagai pengenalan awal terhadap Ilmu qiraat al-Quran.
Qira’at dalam pembahasan ini adalah cara pengucapan lafal-lafal al-Quran sebagaimana yang diucapkan Nabi SAW atau sebagaimana yang diucapkan para sahabat dihadapan Nabi SAW. Lalu beliau mentaqrirkannya/menetapkannya. Selain itu, qiraat al-Quran diperoleh berdasarkan periwayatan dari Nabi SAW baik secara fi’liyah maupun taqririyah. Kemudian, qiraat al-Quran adakalanya hanya memiliki satu qiraat, dan adakalanya memiliki beberapa versi qira’at.
Ada beberapa kata kunci ketika berbicara mengenai qiraat yang harus diketahui. Kata kunci tersebut adalah qiraat riwayat, dan thuruq. Qiraat merupakan bacaan yang disandarkan kepada salah seorang imam dari qurra yang tujuh, sepuluh atau empat belas. Sedangkan Riwayat adalah bacaan yang disandarkan kepada salah seorang perawi dari para qurra yang tujuh, sepuluh atau empat belas. Misalnya, Nafi mempunyai dua orang perawi, yaitu Qalun dan Warsy, maka disebut dengan riwayat Qalun ‘an Nafi atau riwayat Warsy ‘an Nafi.
Adapun yang dimaksud dengan thuruq adalah bacaan yang disandarkan kepada orang yang mengambil qiraat dari periwayat qurra yang tujuh, sepuluh atau empat belas. Misalnya, Warsy mempunyai dua murid yaitu al-Azraq dan al-Asbahani, maka disebut tariq al-Azraq ‘an Warsy, atau riwayat Warsy min thariq al-Azraq. Bisa juga disebut dengan qiraat Nafi min riwayati Warsy min tariq al-Azraq.
Syarat-syarat diterimanya sebuah qiraat adalah mutawatir. Sesuai dengan kaidah bahasa Arab, dan sesuai dengan salah satu mushhaf Utsmani. Sebagaimana dinyatakan oleh ulama qiraat terkemuka AL-Imam Ibnu AL-Jazari dalam kitabnya Tayyibah An-Nasyr ;
فَكُلُّ مَا وَافَقَ وَجْهَ نَحْوِ * * * وَكَانَ ِللرَّسْمِ احْتِمَالاً يَحْوِي
وَصَحَّ إسْناداً هُوَ الْقُـرآنُ * * * فَهَذِهِ الثَّلاثَةُ الأَرْكَانُ
َوحَيثُماَ يَخْتَـلُّ رُكْنٌ أَثْبِتِ * * * شُذُوذَهُ لَوْ أنَّهُ فِي السَّبعَةِ​
Jika tidak memenuhi salah satu dari ketiga hal tersebut dianggap bacaan yang tertolak. Selanjutnya. dapat dikatakan bahwa pada dasarnya qiraat dan al-Quran memang merupakan dua subtansi yang berbeda. Namun demikian, qiraat dapat digolongkan kepada al-Quran jika memenuhi syarat-syarat yang tiga sebagaimana yang diterangkan diatas.
Sedangkan perbedaan qiraat dengan tajwid. qiraat adalah cara pengucapan lafaz- lafaz al-Quran yang berkenaan dengan subtansi lafaz, kalimat, ataupun dialek kebahasaan. Sementara tajwid yaitu, kaidah-kaidah yang bersifat teknis dalam upaya memperindah bacaan al-Quran dengan cara membunyikan huruf-huruf al-Quran tersebut sesuai makhraj serta sifat-sifatnya.

 

Ditulis oleh Mukhtar Hanif Zamzamy

– Juara Tahfidz Quran ASEAN
– Mahasiswa S2 Univ. Muhammad V Rabat Maroko
– Koordinator Pendidikan PPI Maroko
– A’wan Syuriah PCINU Maroko
– Imam Masjid Den Haag Belanda (Ramadhan) 2019