#Artikel

BERSAMA SANTRI MENJAGA BUMI

BUMI ATAU PLASTIK?

Bumi sebagai tempat tinggal makhluk hidup telah mengalami berbagai macam perubahan sejak awal diciptakannya. Setelah sekian milyar tahun bumi berputar, populasi makhluk hidup dan kondisi alam berubah. Semakin banyaknya jumlah manusia disertai aktifitas-aktifitasnya seperti penebangan hutan liar, pemborosan air dan energi, aktifitas industri yang tidak ramah lingkungan, juga melimpahnya produksi sampah telah mengakibatkan berbagai macam kerusakan alam.

Pola hidup masyarakat modern yang konsumtif dan serba praktis membuat plastik menjadi bahan primadona dalam mengatasi permasalahan sehari-hari. Seperti penggunaan bahan plastik untuk kantong belanja, botol air minum, sedotan, kemasan makanan, kemasan barang, dan lain-lain. Manusia modern seakan-akan secara tidak sadar telah menjadikan plastik sebagai kebutuhan pokok, dan sayangnya konsumsi plastik yang berlebihan ini berbanding lurus dengan produksi sampah plastik.

Tidak semudah saat digunakan oleh manusia, butuh waktu bertahun-tahun agar sampah plastik bisa diuraikan oleh tanah. Bahkan ada penelitian yang mengatakan bahwa butuh waktu ribuan tahun agar plastik dapat diuraikan oleh tanah. Proses yang lama ini juga menimbulkan masalah baru untuk lingkungan, yaitu munculnya zat kimia yang dapat mencemari lingkungan dan dapat mengurangi tingkat kesuburan tanah. Muculnya jenis kantong plastik yang diklaim ramah lingkungan pun sebenarnya tidak begitu mengurangi masalah, karena kantong plastik tersebut tetap akan menambah jumlah sampah. Terlebih lagi karena sifatnya yang cepat terurai menjadi mikro plastik, akan lebih mudah untuk mencemari lingkungan.

Sampah plastik merupakan permasalahan global yang tidak mudah untuk diatasi. Di lautan, sampah-sampah plastik mengambang dan berkumpul dalam jumlah besar dan jumlahnya juga terus meningkat. Di Indonesia sendiri, dalam pernyataan yang ada pada situs kompas.com Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyebutkan bahwa Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia yang dibuang ke laut. Dan berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/ tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. Dan kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 milar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik.

Polusi sampah plastik menimbulkan efek domino yang luar biasa bagi kehidupan. Plastik yang tidak terurai jika termakan oleh hewan atau tumbuhan akan menjadi racun berantai pada suatu rantai makanan. Dan tidak menutup kemungkinan, manusia akan menjadi bagian dari rantai makanan yang mengkonsumsi racun tersebut. Dikutip dari situs berita tirto.id, bahwa plastik yang terdapat di makanan dan minuman yang dikonsumsi manusia berdampak buruk bagi hormon yang berpengaruh pada pubertas dini. Selain itu, sudah banyak ditemukan hewan-hewan yang sekarat atau mati setelah memakan plastik. Hewan-hewan tersebut mengira bahwa plastik adalah makanannya, dan akhirnya mati karena organ-organ dalam tubuhnya tak mampu mencerna plastik. Masih banyak lagi permasalahan yang timbul akibat sampah plastik, seperti pencemaran udara akibat asap pembakaran sampah plastik, pendangkalan sungai akibat pembuangan sampah, banjir akibat tersumbatnya saluran air oleh plastik, dan lain-lain.

BERSAMA SANTRI MENJAGA BUMI

Permasalahan lingkungan, khususnya sampah plastik ini tidak akan pernah selesai jika masyarakat hanya memasrahkannya kepada pemerintah. Pemerintah memang bisa membuat atau merancang peraturan terkait lingkungan atau penanganan sampah plastik, namun itu akan memerlukan waktu yang tidak sebentar. Untuk menangani persoalan global seperti ini, diperlukan peran aktif dari seluruh lapisan masyarakat. Maka dari itu, tiap-tiap manusia memiliki kewajiban untuk turut andil menjaga bumi dari kerusakan agar tetap layak dijadikan tempat tinggal, seperti Firman Allah (QS al-A’raf [7]: 56)

“dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Santri sebagai bagian dari masyarakat merasa memiliki kewajiban untuk mengambil peran dalam mengatasi masalah sampah plastik. Dalam Munas Alim Ulama’ dan Konbes NU 2019 di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Kota Banjar Jawa Barat, salah satu rekomendasi yang dihasilkan adalah tentang bahaya sampah plastik. Sebagai tindak lanjut dari  hasil Munas Alim Ulama’ dan Konbes NU 2019 tersebut, Dunia Santri Community sebagai asosiasi santri yang mempunyai jejaring internasional siap menjadi penggerak/pionir masyarakat santri untuk peduli terhadap kearifan lingkungan.

 

Ditulis oleh Nur Atika, Sekretaris Dunia Santri Community

Sebagai Prolog SILATNAS 2 Dunia Santri Community, Mei 2019

About the author

Atika Musthafa

Atika Musthafa

Santri nyambi Sekretaris di Dunia Santri Community
Plt. Desainer jika Desainer DSC sedang sibuk

Add Comment

Click here to post a comment