#Ulasan

(Coba) Membayangkan UNBK seperti ujian di film Exam (2009)

Bagi anak kelas 3 SMA, MA atau sederajat, bulan Januari bisa jadi bulan yang mulai bikin mereka pusing lahir batin. Pasalnya mereka bakal bangun lebih pagi, berangkat sekolah lebih pagi buat ikut program les di sekolah. Biasanya les dilakukan di kala pagi buta -bukan cinta buta lhi, heuheu-, dan selesai sekitar jam 7 pagi.

Kenapa mereka mau? Demi persiapan ujian nasional -katanya-.
Tapi itu dulu, saat negara api belum menyerang, saat penjajah masih jauh, saat ujian itu bernama ujian nasional. Ujian nasional adalah ujian dimana murid bakal mulai pusing, deg-degan, karena bila tak lulus, mereka tak bisa daftar ke perguruan tinggi. Jadi 3 tahun di sekolah ditentukan selama 3 hari ujian. Huft.

Tapi kemudian terjadi perubahan. Ujian nasional tak lagi memakai kertas, tapi sedikit kekinian; pake komputer. Katanya sih untuk mengurangi adanya potensi kecurangan. Masih inget kan dulu jawaban ujian nasional sempat bocor? Ada yang tau kenapa sampe bocor? Apa karena tak ada kisi-kisi sebelum debat? Eh, sebelum ujian maksudnya.

Nah, sebenarnya ujian yang diperlukan untuk siswa itu, seperti apa sih? Adakah film yang layak buat rekomendasi? Seperti apa juga filmnya? Sebenarnya untuk apa juga ada ujian, tes, atau apalah namanya?

Dinamika kehidupan manusia acapkali diwarnai dengan satu fase penting yaitu adanya ujian atau tes. Bergaul dengan masyarakat atau dalam lingkup dunia akademik seperti sekolah dan perguruan tinggi sering mengenal istilah ujian atau tes. Umumnya ujian atau tes dilakukan untuk mengukur, menilai kelayakan seseorang untuk masuk ke sekolah atau perguruan tinggi atau mengukur, menilai ketuntasan seseorang terhadap kompetensi yang ingin dicapai. Tidak hanya itu, sebuah perusahaan yang ingin merekrut tenaga kerja handal pun juga melakukan hal yang sama: melaksanakan ujian atau tes dengan harapan mendapatkan tenaga kerja yang sesuai dengan keperluan perusahaan.

Ujian atau tes umumnya berlangsung dengan format peserta ujian atau tes menjawab soal atau permasalahan. Hal tersebut juga bisa dilakukan dengan bermacam bentuk: pilihan ganda, menjawab dengan uraian, mencocokkan sesuatu dengan pilihan yang sesuai dan sebagainya. Dari hasil itu akan diketahui mana kandidat yang menenuhi syarat dan dinyatakan lulus dari ujian atau tes. Namun, bilamana ujian atau tes itu dilakukan dengan format pertanyaan dan jawabannya harus dicari sendiri oleh peserta, apa yang akan terjadi?

Film berjudul Exam yang rilis tahun 2009 menyuguhkan lansekap itu. Film yang minim aktor terkenal itu bertema sebuah perusahaan yang ingin merekrut tenaga ahli handal namun memberi ujian atau tes akhir yang cukup bikin kepala pening. Bagaimana tidak, untuk mengikuti ujian atau tes tersebut peserta dihadapkan dengan aturan-aturan yang pelik. Aturan-aturan tersebut yaitu bila peserta keluar ruang ujian dengan alasan apa pun, peserta didiskualifikasi. Peserta yang mencoba berkomunikasi dengan pengawas ujian, peserta didiskualifikasi. Peserta yang merusak secarik kertas di hadapannya, peserta didiskualifikasi.

Dalam ujian itu, peserta diberikan selembar kertas dan sebuah pensil. Dalam kertas tersebut hanya bertuliskan “kandidat”. Tidak ada tulisan apa pun lagi selain itu. Waktu yang disediakan 80 menit. Untuk dinyatakan lulus, peserta hanya perlu menjawab satu soal. Iya, satu soal saja.Lalu, bagaimana menemukan soal dari ujian tersebut?

Mulailah peserta berupaya dengan segala cara untuk menemukan soal yang dimaksud. Delapan puluh menit yang diberikan sudah mulai berjalan, tak ada soal yang bisa ditemukan dengan segera. Mulailah satu per satu peserta mencarinya dengan cara menempelkan kertas ke sinar lampu ruangan, membasahi kertas dengan air, namun usahanya nihil. Hingga di akhir film, ada satu kandidat yang mampu mengetahui soal yang dimaksud dan dinyatakan lulus dari ujian dengan jawaban yang sangat sederhana.
Itu salah satu film yang mungkin bisa dipakai rujukan sebelum menghadapi ujian.

Kebayang kah ujiannya seperti yang ada dalam film itu? Kalau belum, coba bayangkan. Namanya mencoba, kan tidak ada salahnya. Kalau tak mau, iya nanti lah kalau mau. Selamat mencoba.

 

Ditulis oleh Hanif Nanda Zakaria
Alamat: Jln. Kenanga Indah I no 37, Jatimulyo, Lowokwaru, kota Malang
Email: hanifnanda2010@gmail.com
IG: @hanifnandazakaria
Bio: penikmat kopi, pelamun di kala senja

About the author

Admin DSC

Admin DSC

Add Comment

Click here to post a comment