#Artikel #OpenMic

GLUTAMAT DALAM MICIN UNTUK KECERDASAN: MITOS ATAU FAKTA?

MSG atau Monosodium Glutamat sebagai aktor kita kali ini telah banyak diketahui sebagai ‘penyedap rasa’ atau ‘umami’ yakni berperan sebagai penyedap yang menambah kelezatan dan meningkatkan nafsu makan. Sejauh ini, The US Food and Drug Administration (FDA) menyatakan MSG adalah bahan yang aman untuk dikonsumsi. MSG ini sendiri merupakan bentuk garam dari asam glutamat, sedangkan dalam tubuh umumya berupa glutamat yakni suatu asam amino/ komponen protein yang dibutuhkan tubuh sebagai neurotransmitter eksitatorik utama yang terdapat di sistem saraf pusat. Pada mamalia, Glutamat terlibat dalam berbagai aspek fungsi dari otak normal termasuk fungsi kognisi, pembelajaran dan memori.

Ada tiga klaim utama dalam hal peran MSG terhadap kecerdasan atau fungsi otak pada umumnya, klaim ini banyak ditemukan di website populer Indonesia, mungkin teman-teman bisa googling hehe. Klaim pertama adalah yang menganggap bahwa MSG tidak bersifat merugikan bagi tubuh dengan batas aman 6 gr/hari. FYI, rata-rata semangkuk bakso abang-abang di Indonesia adalah 0,65 gr jadi kalau bisa, sekalap-kalapnya, makan bakso cukup maksimal 8-9 mangkuk per hari dan no MSG dari sumber lain. Klaim kedua, anggapan bahwa MSG bersifat toksik terhadap sel-sel otak, menurunkan fungsi otak. Sedangkan yang lainnya, MSG yang mengandung glutamat ini malah bermanfaat untuk kecerdasan otak.

Kembali pada secara fisiologis MSG dalam tubuh, ada teori yang harus menjadi pertimbangan:

Pertama, ada beberapa artikel riset (utamanya adalah oleh Hawkins, 2009 dalam American Journal of Clinical Nutrition) yang menyatakan bahwa MSG tidak dapat menembus blood brain barrier atau sawar darah otak, jadi ketika MSG dikonsumsi, diserap dari pencernaan dan disebarkan oleh darah, ia tidak punya kemampuan untuk memberikan pengaruh pada otak, kalaupun kita menyuntikkan langsung ke otak, ternyata MSG tidak berpengaruh apapun. Namun, pendapat ini masih banyak yang menyangkal, sebab beberapa riset lainnya juga menyebuntukan bahwa ketika MSG dikonsumsi, ia akan dipecah menjadi komponen salt dan asam glutamat, kemudian asam glutamat akan kehilangan atom hidrogen dan berbentuk glutamat yang mampu menembus sawar darah otak. Maka pada pendapat ini, kemungkinan efek samping penggunaan MSG adalah seperti saat kita mengkonsumsi terlalu banyak garam.

Kedua, meskipun glutamat dibutuhkan untuk kecerdasan, glutamat merupakan asam amino non-esensial, yakni asam amino yang tubuh dapat memproduksinya sendiri. Kalaupun dibutuhkan tambahan konsumsi, kebutuhannya pun terbatas. Saat tubuh merasa cukup maka glutamat dalam darah tidak di uptake oleh otak lagi. Nah, konsumsi MSG berlebihan ini kemudian menyebabkan asam glutamat beredar banyak dalam darah dan mengakibatkan eksitotoksik bagi otak. Akumulasi glutamat di celah antarsel ini menyebabkan terjadinya overstimulasi reseptor glutamat, dan dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan terjadinya kerusakan bahkan kematian neuron (sel saraf).

Berdasarkan keterangan di atas, maka sebenarnya MSG tidak seburuk atau sebaik yang dikira. Jika ditarik benang merahnya, klaim glutamat bermanfaat untuk kecerdasan secara umum rasanya kurang tepat karena tubuh pun dapat memproduksi sendiri. Meskipun demikian, penggunaan glutamat hanya sebatas penyedap rasa dalam jumlah tidak berlebih juga telah dinyatakan aman, dan untuk yang punya pendapat kalau glutamat dalam MSG dapat menembus BBB (Blood brain barrier, sawar darah otak), glutamat ini jadi tambahan uptake neurotransmitter utk fungsi glutamat asli dalam tubuh. Namun, seperti langkah dan jalan hidup pada umumnya, maka menggunakan micin sehari-hari adalah pilihan.

Sebagai penutup, rasanya juga tidak adil kalau kita mengklaim ‘generasi micin’ dengan konotasi buruk, sebab kalau rajin membaca buku, berdiskusi dan open minded, insyaAllah jadi masyarakat yang cerdas.

 

Ditulis oleh Exma Mu’tatal Hikmah

Pengasuh PP. Al Urwatul Wutsqo,

Alumni S2 Pascasarjana Kedokteran Dasar Universitas Airlangga