#OpenMic

Mengapa Anak Membangkang? – OpenMic #49

Kenapa anak membangkang?

Sebagai pembuka dalam tulisan ini, izinkan saya sedikit bercerita tentang pengalaman perjalanan saya dari Kota bandung menuju Jakarta. Peralanan itu saya tempuh menggunakan kereta, disamping saya duduk seorang ibu yang kira-kira usianya 50-an tahun (prediksi saya, karena tidak berani menyakan umur beliau). Pada kesempatan itu, beliau banyak bercerita tentang keluarga. Salah satu point yang manarik menurut saya adalah tentang bagaimana beliau mendidik anak. Beliau bekerja disebuah rumah sakit swasta di Bandung, suami beliau telah lama meninggal. Beliau bercerita bagaimana komitmen mereka  untuk mendidik anak. Mereka rela hidup sederhana agar anak-anak mendapat pendidikan yang baik. Tidak menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada sekolah atau pesantren. Mereka banyak meluangkan waktu untuk mendidik anak-anak mereka. Menghabiskan banyak dana untuk kepentingan sekolah anak-anak mereka.

Hari, tanggal: Rabu, 8 Mei 2018

Waktu: 18.30 – 21.30 WIB

Narasumber: Abdul Mahatir Najar

Kini memasuki usia senja, ibu tersebut telah menuai hasilnya. Kini bergantian keempat anaknya menawarkan umrah, atau sekedar liburan. Jangan tanya masalah kebutuhan sehari-hari sang ibu, sangat berlimpah, lebih dari yang beliau pernah harapkan. Melalui kisah ini sebenarnya saya ingin memberikan gambaran bahwa anak adalah investasi yang paling menjajikan bagi setiap manusia. Jika mendidiknya dengan benar, maka akan mendatangkan keuuntungan  dihari kemudian. Tidak hanya didunia, bahkan keuntungannya bisa dirasakan hingga di akhirat.

Namun disisi lain, sering kali kita dikagetkan dengan berita tentang pertikaian antara orang tua dan anak. Begitu sering kita mendapati berita anak-anak yang berani melawan orang tuanya. Bahkan tidak jarang sampai beradu fisik atau sampai baradu di depan meja hijau. Sekilas terlihat begitu tidak manusiawi anak-anak itu, seolah mereka tidak lagi memiliki nurani dan akal sehat. Sering kali saya mengutuk mereka, tapi apakah tindakan mengutuk yang saya lakukan itu dibenarkan ?

Rasanya ada yang salah dengan sikap saya itu. Bukan anak-anak itu yang harusnya dikutuk, melainkan perbuatannya. Bukan anak-anak itu yang harusnya disalahkan tetapi kelakuannya. Sekarang muncul pertanyaan, siapa yang bertanggung jawab dengan kelakuan itu ?

Jika setiap anak yang lahir itu polos, Lalu siapa yang bertanggung jawab membentuk karakter sang anak ? Jika rumah merupakan madrasah pertama bagi anak, lalu siapa yang bertanggung jawab mendidik di madrasah itu ?

Setiap orang ingin anaknya menjadi anak yang baik. Tapi terkadang mereka lupa bagaimana membentuk anak menjadi baik. Setiap orang ingin memiliki anak yang cerdas, tapi terkadang mengabaikan bagaimana cara mendidik anak agar menjadi cerdas.

Bukankah anak merupakan sebuah amanah ? Dan sudah barang tentu setiap amanah akan dimintai pertanggung jawaban atasnya. Dalam tulisan ini, saya tidak bermaksud memojokkan kelompok manapun. Tidak bermaksud menyalahkan siapapun. Harapannya tulisan sederhana ini dapat menjadi renungan bagi kita semua untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Akhirnya, Semoga sang pemberi amanah meminjamkan kemampuan kepada yang diberi amanah agar dapat menjaga amanah tersebut dengan baik. Semoga kita diberi kekuatan untuk menjadi anak shaleh yang berbakti kepada orang tua kita. Kemudian pada gilirannya, semoga kita diberi kekuatan dan kesempatan untuk mendidik anak-anak kita dengan baik.

 

TANGGAPAN

  • Saya setuju dengan ini. Tidak ada anak pembangkang.  Adanya dia adalah korban dari keadaan pembentuknya. (Wihdatul M.)
  • Anak cerminan dari orang tua. Bisa jadi hal demikian terjadi karena orang tuanya yang dulu juga demikian. Ada ketidak harmonisan dalam prosesnya mendewasa. (Nelud)

Oleh karena itu orang tua yang baik adalah yang mampu belajar dari pengalaman buruknya untuk memberikan pendidikan lebih dari apa yang mereka peroleh dahulu.

  • Yang paling utama adalah. Anak akan mencontoh orang tuanya. Jaman dahulu orang tua keras kepada anak. Nah anak-anaknya juga banyak yang memahami pada akhirnya jika orang tuanya keras memang bukan untuk kekerasan. Tetapi mendidik, tahu tanggung jawab serta kewajiban. Itu jaman dulu. Kalau orang tua jaman sekarang seringkali saat melarang anaknya tidak disertai contoh. Misal melarang anaknya main HP, tapi dia sendiri  berjam-jam main HP.

Beda dengan orangbtua jaman dulu keras tapi juga mencontohkan yang baik.

Apakah kita yang pernah merasakan kerasnya orang tua jaman dulu dibentak dll kemudian besar jadi penjahat perampok? Enggak kan? (Dodik Nurcahyo)

Hubungan yang harmonis antara anak dan orang tua menjadikan anak respek terhadap orang tuanya. Selain itu doa orang tua agar anak2nya menjadi pribadi yang baik juga sangat dibtuhkan

  • Yang paling sulit lagi dari permasalahan kenapa anak membangkang. adalah ketika orang tuanya yang bangkang sehingga anaknya membangkangi orang tua disinilah sulitnya .

Karena kata mas Dodik lek wong tuoe apik insya Allah anake apik.

SESI DISKUSI

Sejauh mana bisa dikatakan membangkang?

Kalau mengutip tulisan saya di atas, yang saya maksud membangkang adalah anak-anak yang berani melawan orang tuanya hingga  tidak jarang sampai beradu fisik atau sampai baradu di depan meja hijau.

 

  • Kalau menurut saya,  tidak memenuhi panggilan orang tua saja sudah bisa dikatakan membangkang (Wihdatul M.)

 

  • Kalau pembangkangan ini bisa di tafsil-tafsil bagus ya, atau katakan bsa di coba identifikasi stadium 1, 2 3, sehingga bisa membantu orang tua memberikan dosis yang tepat. (Hidayatullah)

Membangkangnya anak disebabkan karena kondisi seperti apa saja?

Banyak hal, diantaranya sikap orang tua yang terlalu otoriter membuat anak merasa terkekang sehingga pada momen tertentu bisa jadi ‘meledak’ dan menjadi pemberontak. Disi lain kebebasan berlebihan juga bisa menyebabkan anak itu merasa kurang dipedulikan oleh orang tuanya sehingga mengurangi respect anak terhadap tua sendiri2`

Kalau misal ada anak yang membangkang, bagaimana cara yang baik untuk menghadapinya?

Nah sampai hari ini, persoalan ini jg masih menjadi misteri bagi saya. Biasanya setiap anak, ditangani dgn treatment yang berbeda.

Sebagai gambaran, sekitar tahun 2013 kami (LPA SULTENG) pernah mendampingi anak berhadapan hukum. Anak tesbt sebelumnya dikenal baik dn lumayan pintar, kemudian berubah menjadi anak yang sangat nakal. Beberapa kali terlibat pencurian hingga akhirnya harus berurusan dgn polisi. Setelah digali ternyata anak tersebut terguncang jiwanya setelah ayahnya menikah  lagi. Sampai sana kemudian psikologlah yang membantu mengembalikan kepribadian anaka tsb. Menurut psikolog yang sering membantu kami dalam mendampingi anak-anak berhadapan dgn Hukum untuk menghadapi anak-anak semacam ini tidak bisa digeneralisir penanganannya. Intinya harus tahu apa penyebab anak tersebut sprti itu, baru kita bisa ‘perbaiki’ secara perlahan.

  • pendampingan & bimbingan sangatlah penting dalam keharmonisan keluarga, interaksi orang tua terhadap juga harus dijalin.

Karena terkadang contoh orang tua tak selamanya di perhatikan anak, bila tak diimbangi interaksi sebagai kontroling.

Birokasi juga harus di bangun di dalam keluarga seperti hal yang kecil. Mengajak makan bersama dalam meja.

  1. Mujib)

Saya pernah membaca bahwa memberi hukuman pada anak itu tidak baik.  Tapi di lain pihak juga banyak yang pro kontra terhadap statement ini. Bagaimana menurut Anda?

Dalam agama kita sendiri setau saya mmberi hukuman kepada anak itu dibolehkan. Dalilnya sudah mashur kita kenal, tentang mengajarkan shalat kepada anak. Jika sudah sampai usianya kemudian tetapi tidak melaksanakan shalat maka orang tua diperintahkan memberikan hukuman.

Mungkin salah satu penyebab anak yang membangkang adalah faktor lingkungan tempat tinggalnya, teman bermainnya, dan teman sekolahnya.

Saya sekarang mulai sering mendapati orang yang memilih untuk tidak menyekolahkan anaknya karena berbagai faktor, salah satunya karena tidak ingin anaknya salah pergaulan.

Lalu ada juga model orang tua yang saya temui kebetulan tinggal di perumahan, dia melarang anaknya bergaul dengan anak-anak kampung dekat perumahan karena takut berpengaruh buruk.

Bagaimana pendapat Anda tentang hal di atas?

Saya setuju bawa lingkungan termasuk teman sangat mempengaruhi karekter, katanya kan kalau berteman sama penjual minyak wangi akan ikut wangi. Memilih sekolah yang baik termsuk ikthiar orang tua untuk menjadikan anaknya baik.

Jika anak-anak kampung yang dimaksud berperilaku buruk seperti sering tawuran atau meminum khamr, maka wajar jika orag tua yang melarang anaknya bergaul dengan anak.

Bagaimana caranya biar saya bisa ikhlas dan giat mengajak anak nakal (berbicara) pendekatan agar ia bisa merasa lebih diperhatikan lalu mau diajak semakin baik.

Karena jujur, sama anak nakal itu belum-belum sudah malas duluan, (dalam hal ini kenakalan siswa)

  • Kalau saya menangani kasus ini,  saya kasihani anaknya. Anak nakal itu sebenarnya hanya cari perhatian.

Apalagi usia anak-anak.  Saya malah sering menangis gara gara anak-anak yang dianggap nakal ini.  Tidak ada anak nakal. Mereka ini tidak mendapat kasih sayang. Hatinya luka,  jiwanya sakit. Bahkan orang terdekat yang membuat lukanya. (Tanggapan dari Wihdatul M.)

Maka bagaimana ya soalnya hati saya kerasa masih kotor, masih males berteman dengan anak nakal, maunya yang nurut-nurut saja. Padahal di sisi lain saya tahu kalau anak nakal ini lebih pengen diperhatikan karena ternyata banyak dari mereka broken home, ortu cerai, ortu meninggal dll

Kata orang-orang sih yang keluar dari hati akan sampai ke hati. Kalau sebagai guru diniatkan ibadah. itu kenapa guru itu mulia.

  • Kasus di sekolah saya.  Anak anak jenis ini malah lebih nyaman dan nempel Sama Gurunya. Karena dirumah dia nggak dapet perhatian kayak gitu. Menempatkan diri diposisi anak tadi.. Tidak. Merasa superior..  Tidak merasa menggurui. Tidak merasa nasib kita jauh lebih baik dari dia. (Tanggapan Wihdatul)
  • Kalau menurut saya, ketika menjadi guru dan anak-anak ada yang melanggar, hal pertama yang harus kita tanyakan adalah kenapa dia begitu. Syukur-syukur kalau dia mau jawab jujur. Kalau anak-anak usia SMA biasanya sudah lebih terbuka (pengalaman saya sih).

Saya pernah dapat tugas piket pagi, nunggu anak2 yang telat di gerbang sekolah. Dari yang telat coba saya tanya kenapa telat. Penyebabnya macam-macam, mulai dari ada yang kerja sampingan nunggu warnet kalau malam, jadi paginya masih ngantuk, sampai ada juga yang baru pulang dari RS karena nunggu orang tuanya.

Di situ saya belajar, jangan memberi sanksi pada anak yang melanggar peraturan sebelum bertanya mengapa

Yang saya lihat pada anak nakal sebagai orang tua langsung ingin memberi jurus “hukuman”. Padahal konon pasir yang digenggam erat malah berhamburan. Berarti jadi orang tua dan guru itu harus merangkap menjadi psikolog ya.

Iya

Bagaimana pendapat Anda tentang orang tua yang memilih memondokkan anaknya karena menganggap anaknya terlalu nakal dan sudah tidak sanggup mendidik?

Hal ini sebenarnya bisa dilihat dari sisi positif bawa orang tua percaya lingkungan pesantren adalah lingkungan yang baik, hingga harapannya anaknya bisa menjadi baik dengan dititipkan dipondok.

Tapi kembali lagi, ikhtiar seharusnya tidak hanya sampai sana, orang tua juga harus terus belajar menjadi orang tua yang baik. Agar dapt menjadi teladan bagi anaknya

  • Saya setuju kalau anak yang nakal dipondokkan tapi orang tua tetap ikut memantau (Vivi Amal)

Bagaimana tentang orang tuanya yang menakut-nakuti anaknya yang yang nakal dengan ancaman untuk memondokkannya? Contoh kalimatnya begini: “lek nakal tak pondokno lo!

Ini sepertinya perlu dikurangi biar tidak tercipta keyakinan pada anak-anak bahwa mondok itu sebagai hukuman.

Harusnya kan kita memberikan gambaran tentang indahnya mondok agar anak-anak punya keinginan mondok.

#ayoMondok

 

TAMBAHAN

Beberapa kutipan dari Pengajian Dr. Agus Zainal Arifin, M.Kom (Dosen ITS Surabaya):

  • [11/18/2017, 05:34] Pak Agus Zainal Arifin: Orang yang ingin memiliki anak yang shalih, hendaknya dia sendiri memposisikan dri sebagai anak yang shalih bagi kedua orang tuanya. Sebab itu akan menjadi contoh bagi anak-anaknya  sendiri tentang bagaimana seharusnya memposisikan diri sebagai anak.

Seseorang belum dianggap bersyukur kepada Allah atas nikmat kehidupan ini apabila orang tersebut belum bersyukur kepada orang tuanya yang telah menolong dirinya meraih kenikmatan kehidupan ini.

 

  • [11/18/2017, 05:34] Pak Agus Zainal Arifin: Orang tua dinilai baik oleh Allah SWT bila mau mendukung anaknya untuk berhasil berbakti kepada dirinya. Caranya adalah dengan tidak menuntut berlebihan dan tidak kaku, sehingga jadi mudah merasa ridlo terhadap usaha anaknya.

 

  • Anak yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang itu maksudnya di manapun berada dia disayangi. Dia di rumah disayangi orang tua, di sekolah disayangi guru, di luar disayangi teman, di keluarga kelak disayangi istri/suaminya, di masa tua disayangi anak dan cucunya.

Orang yang demikian tidak akan sulit menyayangi orang lain, sebab di dadanya segala kasih sayang itu terekam jelas secara otomatis. Semua pihak tadilah yang sangat berjasa membentuk orang yang sangat mulia ini.

Anak yang dibesarkan dengan kasar itu maksudnya di manapun berada dia dikasari. Dia di rumah dikasari orang tua, di sekolah dikasari guru, di luar dikasari teman, di keluarga kelak dikasari istri/suaminya, dan di masa tua diperlakukan kasar oleh anak dan cucunya.

Orang yang demikian akan sulit untuk tidak kasar kepada orang lain. Sebab di dadanya segala bentuk kekasaran itu terekam jelas secara otomatis. Semua pihak tadilah yang harus bertanggung jawab membentuk orang sangat kasar itu.

Jadi kalau belum sanggup menjadi manusia yang penuh kasih sayang, setidaknya jangan mengumbar omongan dan tindakan kasar kepada orang lain, apalagi kepada anak muda. Nek gak iso ngewangi, ojok ngerusuhi.