#OpenMic

Nasionalisme Muslim Indonesia Melawan Radikalisme

Cinta tanah air adalah bagian dari keimanan. Begitulah semboyan populer yang paling sering kita dengar tentang hubungan nasionalisme dengan keislaman, namun kadang ada tanda tanya besar dalam sebagian benak individu muslim yang mempelajari agamanya.

Bagaimana mungkin kecintaan terhadap tanah air saja yang belum tentu tanah airnya agamis, religius, bahkan kadang apa yang ada di tanah air itu sendiri justru bertentangan dengan nilai-nilai islam bisa dengan mudah disebut bagian dari keimanan? Jawabannya adalah: Makna dari “cinta tanah air adalah bagian dari keimanan” tidaklah sedangkal apa yang gampang terlintas dalam pikiran kita.
Cinta tanah air bukanlah pengakuan atau ungkapan yang semudah kita lantangkan suara dengan lagu atau puisi kebangsaan seperti yang di tegaskan oleh salah seorang ulama’ bawahsanya :
حب الوطن هو تكليف من تكاليف الاسلامية
“Cinta tanah air adalah tanggung jawab dari sekian banyak tanggung jawab perkara keislaman”
Dan bukan itu saja. Cinta tanah air juga merupakan rasa syukur, haru dan rindu akan setiap aroma buminya, segar airnya, hijau tumbuhannya, dan sejuk dingin panas cuacanya serta setiap apapun yang berkaitan dengan tanah air itu sendiri. Dan hal itu juga pernah di ungkapkan secara eksplisit oleh baginda besar Nabi Muhammad SAW, ketika beliau terpaksa harus berhijrah pindah dari tanah lahirnya menuju Madinah di karenakan penindasan kedzaliman dan intimidasi dari kaum musyrikin Makkah. Lalu beliau keluar dari bumi Makkah. Dan tatkala beliau mendekati perbatasan tanah Madinah, beliau berbalik badan menghadap ke bumi tercintanya seraya bersabda :
ما أطيبَك من بلدٍ! وما أحبَّك إليَّ! ولولا أن قومي أخرجوني منك، ما سكنتُ غيرَك
“ٍSungguh betapa dirimu seindah-indahnya tempat . Dan sungguh betapa dirimu kucintai. Dan andaikan bukan karena kaumku mengusirku darimu, maka pasti aku tak akan pernah menempati tempat selainmu
Begitu dalam ungkapan itu menunjukan kebesaran rasa cinta Rosulullah SAW terhadap bumi Makkah. Bukan semata karena Makkah adalah tempat pilihan yang dimuliakan oleh sang Maha Kuasa. Akan tetapi juga karena ia adalah tampat lahir dan tumpah darah Rosulullah SAW. Tempat dimana beliau lalui masa kanak-kanaknya yang indah bermain bersama teman-temannya. Tempat dimana beliau lalui proses didikan akhlak masa remaja yang dituntun langsung oleh Rabb alam semesta.
bahkan suka atau tidak harus kita akui, makkah saat itu merupakan kota paling kafir dimana masyarakat Quraish kadang bertelanjang bulat saat thowaf mengelilingi ka’bah, belum patung-patung dan bebatuan yang mereka tuhankan, hingga tradisi mengubur hidup-hidup bayi yang terlahir dengan gander wanita,
hal itu mutlaq memastikan bahwa keadaan kota makkah kala itu jauh lebih kotor dari bangsa kita saat ini,
lantas praktek maksiat atau dosa yang mana di indonesia ini yang lebih kotor daripada yang terpampang dikota makkah kala itu, hendak kita jadikan pembenaran atas sikap antipati kita atas kecintaan pada tanah air ini atau bahkan lebih jauh lagi hendak kita jadikan dalil dan hujjah untuk mengharamkan rasa nasionalisme dalam hati kita ?!

Sebagian ulama sampai mengilustrasikan kecintaan Rosulullah SAW terhadap Makkah yang disimpulkan dari sabdanya tersebut, bahwa kecintaan beliau juga meliputi tanahnya, cuacanya, pasirnya, kampung-kampungnya dan kebun-kebun kurmanya juga segala sesuatu yang memiliki ikatan emosional dengan memori kenangan yang terekam dalam sanubari beliau.
Bagaimanapun juga, sebagai manusia tentunya secara fitrah pasti memiliki ikatan batin yang kuat dengan tempat kelahirannya. Maka cinta yang begitu kuat itulah yang mendasari semangat tanggung jawab beliau akan kebaikan tanah airnya sendiri untuk dikemudian hari beliau bertekad akan kembali ke Makkah dan membebaskan Makkah dari segala bentuk kesyirikan dan mengislamkan kota Makkah pada peristiwa yang di kenal dengan “Fathu Makkah” dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Seakan-akan beliau memperlakukan Makkah seperti memperlakukan sang ibu. Bahkan, peristiwa fathu makkah itu menjadi saksi sejarah akan jiwa lemah lembut Nabi Muhammad SAW yang paling tinggi. Dalam hal ini sebagian ulama berkata:
لو لم يكن في حياة رسول الله ما يدل على لطفه ورحمته الا ما وجد في فتح مكة لكفى
“Andai kata dalam riwayat hidup Rosulullah SAW tak ditemukan sesuatu yang menunjukkan lemah lembut dan kasih sayangnya kecuali peristiwa fathu makkah, maka tentu itu sudah cukup”
Bahkan sebagian yang lain menambahkan bahwa :
من يقرأ قصة فتح مكة ولم يبك او لم يتزلزل قلبه هذا في انسانيته قولان
“Barang siapa yang membaca kisah fathu makkah dan ia tidak menangis atau tidak terguncang hatinya, maka orang itu dalam jiwa kemanusiaannya masih diragukan.

Kunci dari kecintaan terhadap tanah air adalah rasa memiliki dan rasa tanggung jawab kita akan tempat kelahiran kita. Sebagaimana pernah dikatakan oleh salah satu pemuka Islam di negeri kita kyai mustofa bisri yang biasa kita sapa dengan panggilan gus mus :
Kita adalah warga indonesia yang muslim bukan muslim yang kebetulan tinggal di Indonesia,
jika indonesia baik maka kita layak menjadi yang paling bangga,
sebaliknya jika indonesia buruk maka kita lah yang paling menanggung malu
(kurang lebih seperti itu gus mus menyatakan)
Maka jelas baik buruk indonesia ada di pundak kita.

Jika kita bertanya: Apa yang harus kita perbuat untuk menunjukan kecintaan terhadap tanah air kita?. Ada banyak jawabannya. Namun salah satu yang paling harus kita perbuat adalah tetap menjaga situasi kondusif tanah lahir kita agar tetap aman dan damai serta melawan segala bentuk pemikiran apapun yang berbau radikalisme yang mengancam keamanan dan keutuhan tanah air kita.
Namun masalahnya, terkadang ketika kita menentang berbagai bentuk pemikiran yang seperti itu justru sebagian orang malah membuat kita seolah berhadap-hadapan dengan agama kita sendiri. Dengan kata lain, kita seperti dipaksa untuk memilih salah satu dari dua hal yang dua-duanya ingin kita pegang. Kedamaian tanah air atau bela agama?
Sebelum kita menelan bulat-bulat penyudutan yang sepihak itu, tentu kita harus mencari tahu. Apakah membela agama yang dengan cara mengabaikan dan mengesampingkan nasionalisme itu diakui kebenarannya oleh agama itu sendiri? Dengan maksud menjadikan urusan agama mutlak sebagai prioritas utama itu harus menggugurkan hal penting lainnya yang pada hakikatnya juga bagian dari agama. Jelas itu sungguh tidak dibenarkan oleh agama.
Telah banyak kita ketahui entah melalui media atau pernah kita lihat sendiri sebagian orang yang mengatas namakan Islam dengan lantang menyerukan perang terhadap kelompok lain. Entah itu sesama muslim atau non muslim. Sebelum kita percaya itu benar bersumber dari ajaran islam. Kita tanyakan dulu apakah benar Islam seperti itu? Hal pertama yang perlu kita ketahui sebelum membahas suatu tema. Kita harus luruskan dan bersihkan pemikiran kita dari segala bentuk keegoisan dan kefanatikan. Agar apa yang kita bahas menjadi objektif sehingga kebenaran yang didapat pun bukan kebenaran yang relatif semu dan terbatas.
Pada hakikatnya, Islam adalah agama damai dan berperikemanusiaan. Jika kita kembali kepada sejarah awal mula Islam. Disana telah tertulis bahwa Rasulullah SAW tak sekalipun memulai peperangan lebih dulu selain dengan dasar pembelaan. Bahkan setiap peperangan yang terjadi bukan di mulai oleh kaum muslimin. Di masa awal Islam sebelum peristiwa hijrah, Allah SWT tidak mengizinkan Rosulullah SAW dan para sahabatnya untuk berperang. Mereka semua hanya diperintah sabar, sabar dan sabar atas segala bentuk diskriminasi orang kafir saat itu. Barulah setelah peristiwa hijrah, terjadi banyak peperangan yang itupun keseluruhannya terjadi di kawasan bumi Madinah. Maka bisa diberi kesimpulan bahwa orang kafirlah yang mendatangi kaum muslimin.
Memang ada berapa peperangan, satu atau dua peperangan yang terjadi di luar bumi Madinah atau bisa dianggap dimulai oleh kaum muslimin. Namun demikian, semuanya tidak serta merta memberi kesimpulan islam menyerukan perang lebih dahulu. Sebab itu semata-mata adalah bentuk pembelaan dan perlawanan atas penjajahan yang dilakukan orang kafir terhadap kaum muslimin. Baik itu penjajahan dengan kedzaliman secara terang-terangan ataupun dengan merusak perjanjian damai yang sudah berkali-kali terjadi dengan orang yahudi.
Adapun dengan kaum nashrani, tercatat dalam sejarah Rasulullah SAW bahwa peperangan yang hampir terjadi dengan mereka itu sebanyak 71 kali. dan dari ke71 kali itu hanya satu kali yang sampai terjadi perang. Ini bukti betapa Islam sangat menjunjung tinggi perdamaian. Karena pada dasarnya jihad diwajibkan bukan untuk membunuh non muslim atas dasar keyakinannya. Bukan perbedaan keyakinannya yang membuat mereka wajib diperangi. Akan tetapi kedzaliman atau penjajahan dari kaum non muslim itulah yang mewajibkan umat Islam untuk memeranginya. Itupun terdapat aturan-aturan yang harus dipatuhi dalam wasiat Rasulullah SAW di setiap peperangannya. Dan wasiat tersebut ditetapkan sebagai undang-undang pada masa khalifah Abu Bakar As-Shiddiq RA.
Salah satunya adalah membunuh harus di medan perang. Maka tak di benarkan pasukan Islam yang membunuh non muslim di luar medan perang. Juga tidak membunuh orang lanjut usia, anak kecil dan wanita. Maka atas dasar apapun orang yang sudah lanjut usia, anak kecil dan wanita tidak pernah di jadikan sasaran perang oleh pasukan Islam. Serta tidak boleh merusak rumah dan harta mereka.
Mari kita lihat, dari semua peraturan perang di sepanjang sejarah Dunia, undang-undang perang siapakah yang semulia undang-undang perang dalam aturan islam?!
Apa yang telah Rasulullah SAW tetapkan mengenai tata cara perang bukan hanya berlaku pada zaman beliau saja, bahkan di zaman sekarang pun kita wajib mematuhi tata cara tersebut seperti yang dicontohkan sendiri oleh beliau.
Kini kita hidup pada zaman di mana dunia sudah terpetakan berdasarkan batasan negara dengan bendera masing-masing serta pasport dan visa sebagai jaminan keamanan. Pun demikian masih belum ditemukan negara yang secara resmi dinyatakan sebagai negara Islam dengan semua aturan dan syariat Islam di dalamnya. Maka mayoritas ulama besar masa kini sepakat bahwa selama mereka (non muslim) tidak menjajah kita, tidak memerangi kita, tidak mengusir kita dari tanah air kita mereka disebut ahlu dzimmah. Yakni berada dalam tanggung jawab kita. Al Quran telah menyinggung masalah ini di dalam surat Al Mumtahanah Ayat 8 :
لا ينهاكم الله عن الذين لم يقاتلوكم في الدين ولم يخرجوكم من دياركم أن تبروهم وتقسطوا إليهم إن الله يحب المقسطين
Artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”
Ayat tersebut akan lebih jelas lagi ketika dilihat dari asbabun nuzulnya (sebab di turunkannya).
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui Abdullah bin Zubair dari Ayahnya bahwa suatu ketika Ibunda dari sayyidah Asma binti Abu Bakar As-Shiddiq yang bernama Qutailah (yang ketika itu belum Islam) memberi hadiah kepada putrinya, namun putrinya menolak dengan alasan dia bukan orang Islam. Akhirnya sayyidah Aisyah yang mengetahui hal itu (penolakan hadiah yang di lakukan sayyyidah Asma’ terhadap ibundanya yang non muslim ketika itu) bertanya kepada Rasulullah SAW sehingga turunlah ayat tersebut.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori
من قتل نفسا معاهدا لم يرح رائحة الجنة وإن ريحها ليوجد من مسيرة أربعين عاما
“Barang siapa membunuh kafir mu’ahid (orang kafir yang mengikat perjanjian dengan negara Islam), Dia tidak akan mencium bau harum surga. Dan sungguh harum mewanginya sudah dapat dihirup dari jarak empat puluh tahun perjalanan.
Jika membunuh non muslim yang terikat perjanjian begitu berat ancamannya, lalu bagaimana dengan membunuh non muslim yang menetap di dalam negara dimana mayoritas penduduknya adalah muslim?! Lebih parah lagi jika yang menjadi sasaran jihad itu adalah orang-orang yang memiliki dua kalimat syahadat dengan kata lain sama-sama pemeluk agama Islam.
Dari ayat dan hadits di atas bisa kita pahami bahwa sesungguhnya non muslim yang tidak mengusik ketenangan orang Islam bahkan bersikap baik pada orang Islam, seperti tetangga atau teman, maka mereka tidak boleh disakiti dengan bentuk apapun. Tidak boleh diintimidasi dengan cara apapun. Memperlakukan mereka harus sama persis sebagaimna kita memperlakukan diri kita sendiri.
Rasulullah SAW bersabda:
لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه
“Tidaklah kalian termasuk orang yang beriman sampai kalian mencintai saudara kalian seperti kalian mencintai diri kalian sendiri”
Seperti yang telah diketahui bahwa persaudaran selain persaudaraan sedarah, ada persaudaraan seiman, persaudaraan setanah air dan juga persausaudaraan dari sisi kemanusiaan. Karena pada dasarnya Islam memang tidak pernah mengajarkan kebencian dan kedengkian, justru islam mengajarkan keadilan, kebijaksanaan dan kasih sayang. Sekalipun terhadap orang fasiq atau orang kafir.
Islam tidak mangajarkan kita untuk membenci individunya. Yang wajib kita benci adalah sifat tak terpuji yang terdapat pada individu tersebut. Ketika kita sudah mampu mencintai individu lain, maka kebaikannyalah yang lebih kita inginkan seperti taubatnya orang fasiq atau Islamnya orang kafir.
Adapun mengenai akhlak Rasulullah terhadap non muslim, tidak hanya kepada kafir mu’ahid saja. Melainkan kepada yang bukan mu’ahid beliau juga tetap menunjukkan akhlak yang tinggi.
Di dalam riwayat imam Bukhori & Muslim dari Jabir bin Abdillah berkata: pernah ada suatu jenazah dibawa melewati kami. Kemudian Rasulullah berdiri untuk menghormatinya dan kami pun ikut berdiri. Kemudian kami bertanya: wahai Rasulullah! sesungguhnya itu adalah jenazah orang Yahudi. Beliau menjawab: bukankah dia itu juga manusia?
Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa kaki Rasulullah ﷺ sampai bengkak karena terlalu lama berdiri.

Setelah kita sadar akan hal itu semua, bahwa islam sama sekali tidak mengajarkan perilaku radikalisme dan tentunya islam juga sama sekali tidak bisa dipertentangkan dengan nasionalisme ataupun patriotisme, maka tidak ada alasan lagi bagi kita penghuni bumi untuk tidak menghargai dan mencintai tempat lahir kita juga saudara setanah air kita sekalipun mereka berbeda agama dengan kita.
Cintai dan hargailah tanah lahirmu, maka ia akan memberimu lebih dari yang kau berikan!

Semoga kita senantiasa berada dalam petunjuk Rosulullah SAW. Tidak terjebak dalam jalur kanan maupun kiri. sebab sebaik-baik perkara itu adalah yang berada dijalan tengah.
Washollallahu ala Muhammad wa ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Ditulis oleh : Ahmad Muntaga hasyir