#OpenMic

Pengaruh Hallyu Wave (Korean Culture) pada Perkembangan Korea Selatan

Assalamualaikum wr wb

안영하세요, 여러분!

Perkenalkan saya Qisthi Wiqoyati, boleh dipanggil Qisthi, Wiqo, Qici atau Aya juga bisa.
Disini siapa yang belum pernah dengar tentang Hallyu atau Korea Wave? Kayaknya hampir semua orang sudah pernah terpapar Hallyu ini ya. Sebenernya awalnya Hallyu itu gimana sih? Kok bisa sampai sebesar ini? Kok bisa Korea Selatan yang kurang lebih 50 taun lalu masih berusaha bangkit dari efek perang saudara sekarang menjadi salah satu leading country dalam hal budaya dan kemudian tentu saja ekonomi?

Istilah Hallyu berasal dari kata “Hánliú” yang secara harfiah berarti “the flow of korea”. Istilah ini memang pertama kali booming di China ketika Hallyu mulai masuk kesana, istilah Hallyu yang dibawa oleh Ministry of Culture and Tourism diadaptasi sebagai istilah untuk semua cultural product yang di export Korea ke berbagai negara.

Hallyu ini bukan cuma tentang musik dan drama ya. Dia juga termasuk makanan, broadcasting, karakter gaming atau karakter manhwa dan juga publishing. Jadi semua bentuk cultural product yang di export oleh Korea Selatan bisa masuk pada istilah Hallyu. Pada awal 2000an banyak scholar yang mengira fenomena Hallyu ini bakal gak bertahan lama, karena kayak “apa sih? Gitu doang, dari Korea lagi” ternyata dimulai dari sekitar awal 1990an, Hallyu sekarang malah semakin besar (salah satu boyband Korea BTS baru saja dinobatkan sebagai highest-paid boyband in the world dengan pendapatan 57 Milliar USD/year).

Hal ini bisa terjadi karena apa? Coba kita lihat satu-satu. Pertama, Hallyu ini didukung banget sama pemerintah Korea Selatan-nya. Bahkan bisa dikatakan Hallyu ini awalnya adalah program pemerintah. Sejak dibukanya sensor pemerintah terhadap televisi, radio dan media masyarakat pada 1980, budaya luar masuk ke Korea Selatan (Amerika). Sampai pada akhirnya budaya Korea tergerus dan ini bisa dibilang jadi trigger pemerintah Korea, gimana caranya budaya mereka tidak tergerus budaya luar. Hal ini sekaligus membuat pemerintah Korea sadar kalau budaya bisa menjadi salah satu barang yang bisa mereka export. Kayak revenue film Jurrasic Park yang tayang di Korea tahun 1993 bisa mengalahkan revenue penjualan Hyundai. Dimulailah keinginan pemerintah untuk mengembangkan cultural product sebagai barang export.

Sebagai contoh keseriusan pemerintah Korea bahkan untuk hal sekedar K-pop yang bagi sebagian besar dari kita itu adalah hal yang remeh banget, K-pop punya unit sendiri di Ministry of Culture and Tourism. Sudah bisa dilihatkan gimana seriusnya pemerintah Korea menjadikan Hallyu ini sebagai soft power mereka untuk menguasai dunia 😆😆
Kedua, tadi disebutkan karena dibukanya sensor pada media dan public broadcast dari dunia luar ke masyarakat Korea. Budaya Amerika langsung menyerang Korea. karena pride Korea ini sehingga mereka nggak mau menelan mentah-mentah budaya dari Amerika, jadi budaya yang terbentuk adalah budaya hybrid antara budaya Amerika dan Korea yang kita lihat sekarang. Hybrid culture ini yang membuat Hallyu unik dan lebih bisa diterima di negara Asia.

Sedikit nyerempet ke budaya Jepang. Sebagai salah satu Asia’s power dalam hal budaya. Kenapa sekarang bisa mulai disusul oleh Korea? Karena Jepang gak memanfaatkan media sosial. Sedangkan Korea sangat memanfaatkan media sosial. Youtube, Instagram, Twitter, VLive hampir semua cultural product korea punya account di salah satu atau salah dua platform tersebut sehingga Hallyu ini lebih gampang dijangkau oleh dunia internasional.

Efeknya ke korea apa? Export. Export mereka terus menunjukan peningkatan dari taun ke taun. GDP Korea Selatan pada tahun 1990 hanya 279.3 Milliar USD sekarang sudah melesat menjadi 1531 Trilliun USD. Disaat industry CD menurun, Industri musik Korea mampu mendongkrak penjualan CD dengan memanfaatkan penambahan exclusive merchandise di setiap CD yang terjual. Spill-over effect juga muncul karena Korea Selatan memanfaatkan soft power ini. Ketika individu menyukai salah satu bagian dari Hallyu, mereka hampir secara otomatis akan mencari tau tentang bagian Hallyu yang lain. Misalnya, ketika mbak A menyukai drama, dia akan menjadi tertarik dengan makanan korea yang dimakan di drama tadi, pakaian yang dipakai, café yang didatangi. Akan muncul keinginan untuk datang ke korea dan merasakan pengalaman di drama secara real live. Voila, drama booming tourism juga naik.

Hallyu juga membantu Korea memperbaiki image mereka. Korea yang diawal dikenal sebagai negara yang gak aman, kena perang saudara, politik yang gonjang-ganjing bisa memberikan image aman, menyenangkan dan ekonomi yang stabil dari Hallyu ini.

Hallyu tentu saja bukan suatu program yang muncul secara tiba-tiba. Juga tidak muncul karena kebetulan. Hallyu tidak akan muncul tanpa perubahan structural dan kelembagaan di Korean pada tahun 90an yang membantu membuka pasar budaya popular dari dan ke Korea. keikutsertaan pengusaha-pengusaha besar (chaebol) juga membantu mengubah Industri dari yang kecil dan kuno ke pasar yang modern dan kompetitif. Sejak itu, Industri Hallyu telah menghasilkan produk budaya berkualitas tinggi yang telah menarik konsumen domestik dan juga asing.

Menurut saya pribadi, Korea bisa berhasil memiliki hybrid culture dengan tetap memiliki ciri khas budaya mereka karena masyarakat mereka yang homogen. Jadi budaya yang mereka miliki adalah budaya milik bersama, sehingga mereka memiliki rasa kepemilikan yang kuat pada budaya mereka. Kalau Indonesia? Kelebihan Indonesia adalah budaya yang beragam, tapi hal ini bisa jadi pedang bermata dua. ketika satu budaya yang diangkat budaya yang lain bisa iri. Apa pemerintah bisa menggunakan salah satu budaya Indonesia menjadi alat soft power tanpa meninggakan ciri khas Indonesia yang memiliki berbagai macam budaya? Semoga Berkraf bisa mengakomodir hal ini ya.

Akhir kata, Suka Korea nggak papa, tapi tetap jangan lupa ngaji yasin dan tahlilan

About the author

Atika Musthafa

Atika Musthafa

Santri nyambi Sekretaris di Dunia Santri Community
Plt. Desainer jika Desainer DSC sedang sibuk

1 Comment

Click here to post a comment