#Artikel #OpenMic

SANTRI MENOLAK BULLYING

 Bullying merupakan sebuah tindak kekerasan yang kerap terjadi di tempat mana saja, di lingkungan di mana terjadi interaksi sosial antarmanusia, baik di dunia nyata maupun dunia maya (yang biasa kita kenal dengan cyberbullying). Bullying merupakan perbuatan yang jelas dilarang oleh Islam. Salah satunya adalah firman Allah swt berikut yang melarang perilaku bullying:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ

Dan firman Allah swt lainnya,

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.”

Para mufassirin membedakan kalimat al-hamz dan al-lamz.  Mereka mengatakan bahwa الهمز adalah perbuatan menghina dengan melalui ucapan sedangkan اللمز melalui perbuatan. Jadi dalam ayat ini, Allah swt mencela dua jenis perbuatan bullying; baik dalam bentuk perkataan maupun fisik. Lebih lanjut, Ibnu Abbas dalam mengomentari ayat ini mengatakan, “Al-humazah dan al-lumazah adalah satu makna, yaitu orang-orang yang kesana-kemari menyebar fitnah, memecah belah kesatuan dan persatuan yang dijalin dengan rasa cinta perdamaian, dan menghendaki kesengsaraan bagi orang-orang yang baik.

Untuk mengenali perbuatan bullying, berikut identifikasi tanda-tanda bullying:

  1. Terdapat ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan target.
  2. Terdapat keinginan untuk melukai.
  3. Cenderung dilakukan berulang.
  4. Ancaman dan teror yang bersifat menyerang (agresif) dan negatif.

Bullying terkadang dianggap remeh oleh sebagian kelompok orang, padahal dampaknya sungguh luar biasa baik bagi pelaku, korban, bahkan bagi saksi yang terlibat dalam bullying. Beberapa kasus yang marak bahkan dapat menyebabkan kematian korban baik disebabkan secara langsung maupun dikarenakan tekanan mental yang tidak sanggup lagi ditahan oleh korban sampai menyebabkan dia bunuh diri. Menurut data terbaru KPAI, tahun 2018 ada 107 anak menjadi korban bullying dan 127 anak menjadi pelaku bullying.

Bullying memiliki beberapa bentuk:

  • Bullying verbal, berupa celaan, fitnah, atau penggunaan kata yang tidak baik untuk menyakiti orang lain.
  • Bullying fisik, berupa pukulan, menendang, menampar, meludahi, atau segala bentuk kekerasan yang menggunakan fisik.
  • Bullying relasional, berupa pengabaian, pengucilan, cibiran, dan segala bentuk tindakan untuk mengasingkan.
  • Cyber bullying, berupa segala bentuk tindakan yang dapat menyakiti orang lain dengan sarana media elektronik.

Ada beberapa penyebab bullying yang bisa kita hindari, di antaranya:

  • Permusuhan dan rasa kesal di antara pertemanan bisa memicu seseorang melakukan tindakan bullying.
  • Rasa kurang percaya diri (korban) dan mencari perhatian (pelaku)
  • Pola asuh yang salah. Pelaku bullying biasanya berasal dari keluarga yang otoriter dan senang menghukum anak dengan kekerasan baik fisik maupun verbal. Maka penting bagi orangtua untuk memperbaiki hal tersebut agar anaknya tidak terjerumus dalam tindakan bullying.
  • Perasaan dendam
  • Pengaruh negatif dari media.
  • Bullies poweryang didapat dari tindakan orang sekitar yang membiarkan kasus bullying terjadi. Artinya, orang-orang yang melihat atau mengetahui adanya perbuatan bullying tidak berusaha untuk menegur atau melarang perbuatan tersebut. Dengan ‘diamnya’ saksi maka pelaku akan semakin PD dalam melakukan tindakan bullying selanjutnya.

Dan berikut langkah yang bisa kita lakukan jika di-bully:

  • Tetap percaya diri dan hadapi tindakan bullying dengan berani.
  • Simpan semua bukti bullying yang bisa kamu laporkan.
  • Berbicara dan laporkanlah.
  • Berbaurlah dengan teman-teman yang membuat kalian percaya diri dan selalu berpikir positif.
  • Tetap berpikir positif.

Berikutnya, kalau kita menyaksikan atau mengetahui tindakan bullying, hal berikut yang harus kita lakukan:

  • Jangan diam! Karena diam sama saja memberi kekuatan lebih kepada pelaku untuk lebih PD dalam melakukan aksi bullyingnya di kemudian hari. maka penting untuk speak upkepada pihak yang dianggap mampu untuk menghentikan tindakan bullying tersebut.
  • Cobalah untuk melerai dan mendamaikan.
  • Dukunglah korban bullying agar bertindak positif.
  • Bicaralah dengan orang terdekat pelaku bullying agar memberikan perhatian dan pengertian.
  • Laporkan kepada pihak yang bisa menjadi penegak hukum di lingkungan terjadinya bullying seperti kiai, asatidz, kepala madrasah, guru, tokoh masyarakat, atau penegak hukum seperti kepolisian.

Adapun untuk instansi pendidikan atau pesantren karena merupakan tempat pendidikan dan berdasarkan survei tindakan bullying banyak terjadi di sekolah, maka pihak pesantren pun tidak boleh menganggap remeh hal tersebut. Meskipun terjadinya dari tindakan yang sederhana, tapi harus segera ditindak lanjuti agar tidak membesar menjadi bullying yang berdampak sangat serius. Lebih baik lagi, mencegah tindakan bullying terjadi dengan membangun komunikasi pada berbagai pihak (pengasuh, guru, pengurus, wali santri, dan santri) mengenai bullying. Kemudian berupaya untuk menciptakan lingkungan yang damai dan antikekerasan, memberikan pengawasan, dan memberi hukuman bagi siapa saja yang terlibat dalam tindakan bullying baik pelaku maupun saksi aktif yang ikut menyoraki atau mendukung pelaku dalam melakukan aksi bullying nya.

Ditulis oleh Atina Balqis Izzah, Lc., M.A.
Pengasuh PP. Asshiddiqiyah 10 Puncak-Cianjur sebagai materi diskusi online di Dunia Santri Community