#Cerita

Santripreneur from Zero To Hero: Kisah Sukses Usaha Santri Online (1)

Nama saya Abdul Wahab. Saya seorang anak  dari satu kampung di kaki Gunung Slamet. Saya terlahir dari keluarga yang sangat sederhana dengan 9 bersaudara. Ibu saya seorang petani sedang ayah seorang guru ngaji.

Dalam hal pendidikan, saya juga sangat ingin mengenyam pendidikan seperti teman-teman saya pada umumnya, bisa sekolah sampai kuliah. Namun apalah daya, karena faktor ekonomi pada saat itu akhirnya setelah lulus MI saya hanya bisa melanjutkan sekolah SMP TERBUKA. Sebuah sekolah SMP husus untuk keluarga yang kurang mampu. Sekolah ini cukup unik, di mana kami sebagai siswa hanya sekolah satu minggu 3 kali masuk kelas. Ketika kami berangkat terkadang gurunya tidak berangkat, ketika guru berangkat kami yang kadang tidak berangkat.

Nah, ketika Ujian Nasional ternyata kami menerima soal ujian sama persis dengan anak anak SMP Negeri pada umumnya. Alhasil sayapun tidak lulus dan gagal mendapat ijazah SMP. Ketika gagal lulus SMP inilah sosok ibu yang setia memotivasi saya agar saya bisa tetap semangat. Dari tatapan dan harapan ibu, saya bisa mengambil nasehat bahwa hidup adalah sebuah proses, dan ketika saya tidak lulus bukan akhir dari perjalanan proses. Saat itu saya hanya menyadari bahwa saya  adalah seorang salik/pejalan, ketidaklulusan bukanlah jalan buntu, saya yakin masih bisa menemukan jalan lain bahkan saya bisa membuat jalan saya sendiri, modal saya hanya husnudzon.

“Hidup adalah sebuah proses, dan ketika saya tidak lulus bukan akhir dari perjalanan proses. Saat itu saya hanya menyadari bahwa saya  adalah seorang salik/pejalan, ketidaklulusan bukanlah jalan buntu, saya yakin masih bisa menemukan jalan lain bahkan saya bisa membuat jalan saya sendiri, modal saya hanya Husnudzon.”

Setelah tidak lulus SMP, ayah saya berniat memberangkatkan saya ke Pesantren, namun lagi-lagi karena kendala biaya dan karena ayah juga masih membiayai satu kakak di pesantren, keberangkatan sayapun ditunda.

Biodata Kang Abdu, Santripreneur Sukses.

Untuk membantu perekonomian keluarga, akhirnya saat itu saya memutuuskan untuk bekerja agar nanti bisa punya bekal untuk mendaftar di Pesantren. Pekerjaan pertama saya juga tak lazim. Saya pertama kali bekerja menjadi asisten ibu rumah tangga di mana saat itu saya harus mengerjakan berbagai pekerjaan seorang wanita. Mencuci, momong anak, menyapu, mengepel, dll. Tapi pada saat itu saya jalani saja karena dari hasil kerja inilah nantinya saya bisa punya bekal masuk Pesantren.

Kurang lebih dua atau tiga bulan akhirnya saya pindah kerja di rumah makan. Setelah saya rasa cukup untuk biaya pendaftaran mondok saya putuskan berhenti bekerja dan pulang kampung. Tepat pada tahun 2007 akhirnya biidznilah sayapun bisa mendaftar di sebuah pesantren di Tegal Jawa tengah.

Di pesantren inilah saya belajar banyak hal. Dari sekian ratus santri mungkin santri yang saat itu serba kekurangan hanyalah saya. Teman-teman biasa sebulan mendapatkan kiriman uang minimal Rp200.000,00 sampai Rp500.000,00 sehingga mereka bisa lumayan betah karena segala kebeutuhan pondok bisa meraka penuhi.  Berbeda dengan mereka, setiap bulan saya hanya mendapatkan bestelan/kiriman sebanyak Rp50.000,00.

Dari uang segini saya harus bisa bertahan selama satu bulan. Rp50.000,00 pada saat itu cukuplah tipis, karena saya harus membayar SPP sebesar Rp25.000,00, uang kas Rp5.000,00 dan uang gedung sekitar Rp10.000,00. Jadi uang bestelan yang besarnya Rp50.000,00 hanya tersisa Rp10.000,00. Uang Rp10.000,00 saya harus bisa mengatur untuk hidup saya sebulan di pesantren. Maka tak ayal terkadang saya hanya makan nasi 2 hari sekali. Ketika teman teman asik beli jajan saya hanya bisa duduk sambil menghafal. Jangankan untuk makan dan jajan, terkadang untuk membeli buku dan kitab pun saya harus menabung beberapa bulan. Karena saya jarang mampu membeli kitab, maka ketika pelajaran saya sering sekali meminjam buku dan kitab milik kakak kelas. Jadi di kelas saya hanya pura-pura ngafsahi padahal dalam kitab itu sudah penuh afsahannya kakak kelas.

Kehidupan seperti ini bukan hanya sebulan dua bulan saya jalani di pesantren, tapi kurang lebih tiga tahun saya jalani. Namun, dalam segala kekurangan dan kendala ekonomi keluarga tersebut saya tidak putus asa atau mengeluh. Saat itu saya hanya berfikir “Dalam kekurangan ekonomi keluarga yang seperti ini, ayah dan ibu begitu peduli kepada masa depan saya (masa depan akhirat). Akhirnya yang ada dalam diri saya hanyalah api semangat bagaimana bisa membangakan orang tua.

Alhamdulillah, ternyata betul bahwa HASIL TIDAK AKAN PERNAH MENGKHIANATI SEBUAH PROSES. Perjalanan berat di pesantren terobati ketika tiga tahun berturut-turut saya mendapatkan ranking pertama dan juara satu dalam setiap perlombaan, seperti khitobah, baca kitab, dll. Setelah mendapatkan ranking pertama berturut-turut, ternyata ada salah satu orang ndalem yang selama ini memperhatikan kehidupan saya di pondok. Tepat menginjak sanawi, saya pun didapuk untuk menjadi khodim Mbah Kiai. Alhamdulillah satu beban biaya mondok pun di bebaskan.

Memasuki tahun keempat di pesantren, saya lebih banyak menghabiskan waktu di ndalem Kiai untuk memasak dan menyiapkan kebutuhan Mbah Kiai. Maka ketika temen-teman seangkatan saya sudah hafal Alfiah, karena kesibukan saya pada saat itu saya hanya mampu menghafal kurang lebih 50 bait. Maklum, ketika teman-teman menghafal terkdang saya sedang ngeliwet, ketika teman-teman sekolah terkadang saya sibuk beres-beres, ngepel, dll.

Tapi saya tetap tak putus semangat. Pada detik itu saya ingat satu maqolah

العلم بتعلوم، والبركة بلحدمة

Bahwasannya ketika kita ingin menjadi orang alim, maka cukup kita belajar. Tapi, kalau kita ingin ilmu yang berkah dan manfaat maka tak ada cara lain selain berkhidmah.

Setiap mengingat maqolah itu saya hanya percaya bahwa apa yang sedang saya jalani saat itu akan menjadi pengantar keberkahan dalam hidup saya nantinya, Husnudzon. Bagi saya khidmah adalah satu satu cara meraih keberkahan ilmu. Khidmah dapat diterjemahkan dengan pengabdian. Jadi seorang penuntut ilmu adalah orang yang mengabdi, baik kepada gurunya, lembaga pendidikannya, atau kepada masyarakat pada umumnya.

Tujuan utama dari khidmah adalah untuk menciptakan hubungan batin yang kuat antara murid dengan guru dan mendapatkan keridhaan guru. Jika guru sudah ridha kepada murid, itu pertanda sang murid akan berhasil. Keridhaan guru merupakan keberhasilan pertama murid . Itu yang kemudian saya fahami dari maqolah diatas.

Kurang lebih satu tahun menjadi abdi dalem, ternyata tepat 2012 ayah kembali berkeinginan memasukan adik saya ke pesantren. Sebagai seorang kakak tentu saya tidak ingin adik saya mengalami apa yang pernah saya alami di pesantren, hidup serba kekurangan, mau mutholaah susah karena tidak bisa beli kitab, dll. Maka pada tahun 2012 sebelum saya lulus mondok, saya sowan, pamit boyong kepada Mbah Kiai agar bisa bekerja dan membiayai adik saya di Pesantren.

(BERSAMBUNG)

About the author

Admin DSC

Admin DSC

Add Comment

Click here to post a comment