#Artikel #OpenMic

Tasawuf Millenial: Mewujudkan Ekonomi Islam Berperadaban

Tasawuf Millenial merupakan dua istilah gabungan tasawuf dan millenial. Tasawuf diartikan sebagai sebuah usaha untuk menemukan cara menuju Tuhan, sedangkan millenial adalah generasi era 80-90an. Generasi millenial sering disebut sebagai digital generation yang cenderung berani, inovatif, kreatif, modern dan individualis, sehingga generasi ini banyak berperan dalam berbagai bidang, baik ekonomi, sosial politik, dan IPTEK.

Keberhasilan peran generasi millenial dalam berepan aktif pada ranah domestik maupun publik tidak terlepas dari kemajuan teknologi komunikasi atas kemajuan global village. Sehingga generasi ini dapat merasakan kedekatan antara satu dengan yang lain dalam sebuah lingkaran connection internity, cara ini jelas berpengaruh dan mengubah cara berkomunikasi serta berinteraksi hingga mengubah mindset dan pengalaman manusia, mengikat dunia menjadi satu sistem, baik politik, sosial, budaya dan ekonomi. Sehingga generasi ini cenderung melahirkan perubahan ketergantungann masyarakat terhadap teknologi.
Namun tak bisa dipungkiri, saat ini peran generasi millenial sangat penting dalam segala aspek kehidupan saat ini, terlebih dalam bidang ekonomi. Saat ini, ekonomi adalah indikator kemajuan dari seluruh aspek kemajuan. Tanpa ekonomi, perubahan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi hingga politik, sosial dan budaya tidak akan berubah sedemikian itu. Aspek terbesar yang berperan dalam mengubah seluruhnya ialah aspek materiil (ekonomi), sehingga pola ini melahirkan timbal balik tujuan dari ekonomi menuju ekonomi. Kok bisa? La iya kan awalnya dari dukungan ekonomi dapat mengembangkan seluruh aspek, lalu tujuan lain pengembangan itu untuk kepentingan ekonomi kapital dan materi.
Begitulah adanya, keadaan saat ini generasi millenial sudah semakin mendominasi diberbagai jagat kehidupan terutama pada aspek ekonomi, baik ekonomi domestik maupun publik. Namun amat sangat di sayangkan, keadaan kita sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar, masih berada di bawah bayang-bayang klausa keterjajahan. Terjajah karena tuntutan kebutuhan ekonomi, terjajah karena faktor tuntutan pekerjaan (ekonomi), hingga terjajah akibat terjerat keringat dan air mata yang harus dilakukan, namun upah yang dihasilkan tak seberapa dengan resiko kematiannya (ekonomi). Mati terpenjara karena tak berkutik lagi, dan mati terpenjara di bawah bayang-bayang para penguasa kapitalnya masing-masing.
Kapital di era millenial bukan lagi sebuah cerita warisan kolonialis, namun nyata terhegemoni akibat gerusan arus globalisasi yang menghasilkan generasi-genarasi kini cenderung egosentris untuk kepentingan sendiri, tanpa melirik kanan kiri apa penyebabnya? Semuslimkah? Atau sesama manusiakah? Apalagi untuk alamnya? Sangat jauh dibenak pikiran, hingga boro-boro mau meng-visikan kesejahteraan bagi peradaban umat Islam saat ini. Yang kaya makin gemerlang dengan segala gaya-nya dan pamer ala-ala warisan kolonialis kapitalis, dan yang tidak punya hanya bisa mengeluh tentang kekhawatiran hari esoknya, hanya dengan dalih-dalih motivasi dan harapanlah mereka menumbuhkan semangat dirinya untuk bisa menatap para teman sebaya muslimnya yang menjelma bak manusia millenial saat ini dengan beragam fasilitas gerusan virus hedonisme. Ya begitulah kiranya yang terjadi, ajaran esoterik Islam (tasawuf) yang menjunjung tinggi nilai keadilan dan kesejahteraan hanya sebatas ajaran, bahkan tren tasawuf hanya sebatas menjadi sufisme Urban dengan beragam gaya barunya, tanpa menjalankan esensi esoterik dari tasawuf itu sendiri (hablumminallah menuju hablum-minannas dan hablumminal alam).
Hal ini tentu amat memprihatinkan, gerusan hegemoni-hegemoni kolonialis terus dipertontonkan demi egosentris kekayaan materi, baik dari ekonomi industri perumahan (home industri kecil) hingga beragam industri lainnya. Sehingga keadaan yang terjadi, saling sikut dan jegal tak lagi sebuah perkara yang tabu. Namun sudah bagian tradisi dengan dalih economic modernity.
Hal ini membuktikan, bahwa Islam seakan-akan bukan lagi sebuah pedoman yang harus diaplikasikan, bukan lagi ajaran yang harus dicontohkan tentang visinya perihal kesejahteraan dan keadilan, namun Islam hanya agama yang dianut dari sisi syari’at kepada Tuhan, tanpa menjalankan amanat Tuhan melahirkan Islam humanis (human sosial) yang berperadaban, berperikemanusiaan, dan berperikeadilan bagi sesama muslim dan sesama umat manusia. Seluruhnya pasti akan terbantahkan dengan dalih profesionalis ekonomic modernity dan kemajuan global. Padahal dibelakang itu ada keinginan nafsu yang menggebu-gebukan harta, tahta dan kepentingan kekayaan.
Maka sebab itulah, Sufism Millenial perlu digairahkan kembali di tengah kita, jalan usaha menuju Tuhan yang selama ini hanya digerakkan sebatas menjalankan syari’at Islam, perlu lebih ditingkatkan pada aspek esoterik menuju Tuhan untuk menjalankan konsep perintah ajaran Islam dalam hal hablumminallah, hablumminnas hingga hablummninal alam.
Dalam ranah ekonomi Islam berperadaban, maka hal yang perlu diperhatikan ialah menyadari bahwa dalam harta kita, ada hak bagi harta orang lain yang membutuhkan, dalam konsep kemajuan ekonomi juga ada kawan saudara seiman yang sama-sama ingin menjalankan pemkembangan ekonominya. Jadi kesemua itu perlu dibangun untuk mewujudkan Islam yang mendengung-dengungkan misi peradaban demi terlahirnya kesejahteraan sesama umat Islam. Dalam hal ini, menjalankan kemajuan tanpa menjatuhkan (saling berbagi menuju kesuksesan bersama) dan menyadari seluruh apa yang bisa dinikmati adalah pemberian Allah yang perlu dibagikan kepada orang-orang sekitar yang membutuhkan, karena sebagian harta kita adalah rezeki mereka yang diberi Allah lewat jalur (wasilah) kita, maka hal-hal semacam ini adalah keharusan yang mau tidak mau harus dilakukan. sehingga mewujudkan peradaban ekonomi Islam bukan lagi sebuah cita-cita fiksi dari sebuah perintah, namun dapat terwujudkan, sebagai bentuk menghargai tajalli Allah pada setiap makluk sesamanya, dan bagian dari jalan menuju jalan yang Allah perintahkan.